© Prica Triferna
Hutan mangrove berkontribusi pada ekosistem dengan memerangkap sedimen yang berguna bagi terumbu karang.
Gerbang depan Suaka Margasatwa Muara Angke ketika ANTARA melakukan kunjungan di Jakarta, Kamis (3/6/2021). ANTARA/Prisca Triferna

Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DKI Jakarta bekerja sama melakukan rehabilitasi kawasan hutan mangrove atau bakau di Suaka Margasatwa (SM) Muara Angke.

"Tujuannya adalah penguatan fungsi Suaka Margasatwa Muara Angke sebagai pusat edukasi mangrove dan restorasi mangrove," kata Pengendali Ekosistem Hutan BKSDA Jakarta Nani Rahayu ketika ditemui di Jakarta pada Kamis.

Kerja sama itu memberikan manfaat besar karena selain mendukung pembangunan saranan seperti pusat edukasi dan jalan di dalam kawasan yang sedang dilakukan, YKAN juga mendukung dalam kajian ilmiah sebagai dasar mengambil kebijakan pengelolaan.

Suaka Margasatwa Muara Angke adalah kawasan konservasi seluas 25,02 hektare (ha) yang terletak di Jakarta Utara. Kawasan itu merupakan salah satu satu unsur penting bagi keberlangsungan kehidupan satwa di Jakarta, termasuk beberapa satwa endemik terancam punah seperti bubut jawa (Centropus nigrorufus).

Nani mengatakan banyaknya sampah yang berakhir di sekitar kawasan yang berasal dari hulu dan terbawa ke Kali Angke, sedimentasi lumpur yang tebal serta adanya tanaman invasif ikut berkontribusi dengan kondisi memprihatinkan bagi flora dan fauna suaka itu, yang bersebelahan dengan Hutan Lindung Angke-Kapuk.

Hal itu juga ditegaskan oleh peneliti mangrove YKAN Topik Hidayat yang mengatakan hutan mangrove di daerah itu sudah mengalami degradasi dan memerlukan proses rehabilitasi untuk mengembalikan keadaannya.

Aksi bersama menyelamatkan ekosistem mangrove di Jakarta itu dilakukan melalui kemitraan Mangrove Ecosystem Restoration Alliance (MERA) yang diinisiasi oleh YKAN.

Secara khusus Topik menyoroti kondisi hidrologi kawasan di mana masukan air tawar di daerah mangrove lebih banyak dibandingkan air asin dari laut. Karena itu akan dilakukan intervensi di sungai dalam kawasan itu yang berada di dekat muara laut.

"Jadi di situ untuk mangrove yang tumbuh cenderung ke jenis-jenis mangrove yang hidup di air tawar, untuk mangrove lainnya tidak tumbuh. Kemudian kita juga akan bantu BKSDA Jakarta untuk membersihkan jenis tumbuhan invasif," katanya.

Suaka Margasatwa Muara Angke adalah kawasan konservasi yang berdiri sejak 1939 dan merupakan suaka margasatwa terkecil di Indonesia, meski memiliki peran penting bagi banyak spesies termasuk jenis dua burung yang dilindungi yaitu bubut jawa dan bangau bluwok (Mycteria cinerea).

Kawasan itu juga berperan penting dalam usaha mitigasi perubahan iklim dengan kemampuan mangrove untuk menyimpan karbon dan menyerap polutan, serta mencegah erosi.

Kunjungan ke Suaka Margasatwa Angke sendiri harus dilakukan dengan mendapatkan izin dari BKSDA Jakarta dan saat ini sedang ditutup menjalani renovasi.

Sumber: antaranews.com