© Awaludinnoer

Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) adalah organisasi nirlaba berbasis ilmiah yang hadir di Indonesia sejak 2014. Memiliki misi melindungi wilayah daratan dan perairan sebagai sistem penyangga kehidupan, kami memberikan solusi inovatif demi mewujudkan keselarasan alam dan manusia melalui tata kelola sumber daya alam yang efektif, mengedepankan pendekatan nonkonfrontatif, serta membangun jaringan kemitraan dengan seluruh pihak kepentingan untuk Indonesia yang lestari.

 

Sejarah YKAN

1991

Kementerian Kehutanan Republik Indonesia memberikan izin operasional kepada The Nature Conservancy untuk melaksanakan program konservasi di Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2014

YKAN mulai berdiri dan disahkan di bawah hukum Republik Indonesia dengan landasan yang dibangun oleh TNC. Dalam melaksanakan konservasinya, YKAN menjalin kemitraan dengan pemerintah, sektor usaha, organisasi masyarakat, akademisi, dan komunitas lokal. 

 

 

 

 

 

 

 

2020

Setelah bekerja di Indonesia selama hampir 30 tahun, pada tahun 2020 TNC memutuskan untuk menutup operasinya di Indonesia. Terhitung sejak Maret 2020, TNC sudah tidak lagi beroperasi di Indonesia dan seluruh pelaksanaan programnya diteruskan pelaksanaannya oleh YKAN sebagai mitra utama.

 

Kami tetap menjalin kerja sama dengan TNC dalam mengembangkan program-program konservasi, di antaranya dengan mengembangkan pendekatan konservasi yang inovatif, melakukan kajian ilmiah, maupun berbagi pembelajaran.

 

Dalam melaksanakan misi konservasi, YKAN dan mitra bekerja sama mendukung pemerintah indonesia di 10 provinsi di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, Bali dan Papua Barat. Di antaranya untuk mewujudkan misi konservasi progam terestrial dan kelautan di bawah ini:

 

6 Juta ha

14 Perusahaan

500 ha

6 Desa

     

Kawasan pengelolaan perairan.

 

 

Tergabung dalam Fisheries Improvement Project.

 

 

Mangrove di 3 lokasi memiliki rencana restorasi terpadu.

 

Di Rote dan Berau didukung dalam mengembangkan budi daya rumput laut dan tambak mangrove yang berkelanjutan untuk mitigasi gas rumah kaca.

 

10 Juta ha 150 Desa 200 Mitra Lebih 417 ha

Pengelolaan hutan lestari di Kaltim & Kaltara.

 

 

Di Kaltim mengadopsi pendekatan SIGAP.

 

 

Tergabung dalam Kesepakatan Pembangunan Hijau.

 

Area bernilai konsevasi tinggi yang dialokasikan untuk perkebunan sawit di Kaltim akan dilindungi sebagai bagian dari komitmen para pihak.

 

6 juta ha

kawasan pengelolaan perairan

14 Perusahaan

 

tergabung dalam Fisheries Improvement Project

500 ha

 

mangrove di 3 lokasi memiliki rencana restorasi terpadu.

6 Desa

 

 

 

 

di Rote dan Berau didukung dalam mengembangkan budi daya rumput laut dan tambak-mangrove yang berkelanjutan untuk mitigasi Gas Rumah Kaca.

10 juta ha

pengelolaan hutan lestari di Kaltim & Kaltara.

150 Desa

di Kaltim mengadopsi pendekatan SIGAP.

200 Mitra Lebih

tergabung dalam Kesepakatan Pembangunan Hijau.

417 ha

area bernilai konsevasi tinggi yang dialokasikan untuk perkebunan sawit di Kaltim akan dilindungi sebagai bagian dari komitmen para pihak.

 


 Filosofi Logo YKAN

Logo YKAN memadukan dua elemen utama alam semesta, yakni darat dan laut, yang merupakan dua program utama YKAN, Program Terestrial dan Program Kelautan.

Warna hijau pada daun menjadi simbol terestrial yang terinspirasi dari pohon ulin (Eusideroxylon zwageri) dan merupakan spesies pohon asli Indonesia. Dikenal sebagai jenis kayu premium, kayu dari pohon ulin memiliki kekuatan tinggi sehingga disebut juga pohon besi. Pohon ulin juga menjadi tempat favorit bagi orang utan untuk bersarang. Bagi suku Dayak, masyarakat asli Kalimantan yang juga menjadi salah satu tempat kerja YKAN, pohon dipandang sebagai pelindung kehidupan.

Riak air berwarna biru mewakili unsur perairan, baik di daratan maupun di lautan. Air sebagai sumber kehidupan, riak gelombangnya memberi kehidupan di bawah laut maupun kehidupan di tepian. 

YKAN hadir dengan semboyan “Untuk Indonesia Lestari” yang selaras dengan strategi YKAN dalam menjalankan misi konservasi, yakni melindungi alam, mendorong praktik berkelanjutan, mendorong kebijakan, dan mendukung pembiayaan inovatif.