©

Jakarta, 19 Agustus 2020—Orang utan adalah satu-satunya kera besar endemik yang kini hanya tersisa di Pulau Sumatra dan Pulau Kalimantan. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa orang utan kalimantan lebih banyak ditemui di luar kawasan konservasi, salah satunya di kawasan Bentang Alam Wehea-Kelay, Kalimantan Timur. Di wilayah yang mayoritasnya merupakan kawasan hutan ini terdapat unit-unit konsesi kehutanan, perkebunan dan wilayah kelola masyarakat. “Oleh karena itu, dalam konteks konservasi orang utan  diperlukan kemitraan para pihak untuk berperan aktif dalam perlindungan orang utan  dan habitatnya,” ujar Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur Sunandar Trigunajasa dalam acara bincang-bincang Conservation Talk: Orang Utan dan Kita,” pada Rabu, 19 Agustus 2020.

 

Conservation Talk (CT) adalah acara diskusi berkala dari Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) yang membahas beragam isu terkait konservasi. Bincang daring kali ini menjadi bagian dari peringatan Hari Orang Utan Sedunia yang jatuh pada tanggal 19 Agustus. Tema “Orang Utan dan Kita” menjadi pengingat bahwa kehidupan orang utan sangat penting dan perlu upaya dari kita semua untuk mempertahankan satwa ini. Banyak informasi dan pembelajaran yang dapat diperoleh dari kehidupan kera besar asli Indonesia ini.

 

“Orang utan adalah spesies payung, jadi melindungi mamalia ini diharapkan dapat melindungi spesies lainnya yang hidup pada habitat yang sama,” ujar Praktisi Konservasi Habitat Satwa Terancam Punah, Yayasan Konservasi Alam Nusantara M. Arif Rifqi.

 

Arif menjelaskan bahwa sebagai spesies payung, aktivitas orang utan akan mempengaruhi ekosistem di sekitarnya. Ia menggambarkan bagaimana daya jelajah orang utan yang luas mampu menyebarkan biji dari buah-buah hutan yang dimakan dan keluar melalui kotoran. Biji dari feses mereka  berkualitas bagus dan bisa tumbuh subur lebih baik daripada biji dari persemaian atau penanaman konvensional oleh manusia. “Itu sebabnya, orang utan juga disebut sebagai agen regenerasi hutan terbaik,” ujar Arif.

 

Masih banyak potensi orang utan yang belum dieksplorasi manusia. Selama ini, studi-studi tentang hewan bermarga Pongo ini lebih banyak mengupas populasi dan habitatnya. Padahal, menurut Arif, tanaman yang dikonsumsi orang utan berpotensi sebagai tanaman obat maupun tanaman pangan manusia. Mengingat tingkat kemiripan DNA antara orang utan dan manusia adalah 97 persen, studi perilaku orang utan masih terbuka dari sisi antropologi, biologi, kehutanan, hingga bioteknologi. Pesan alam lewat orang utan inilah yang belum diterjemahkan secara utuh. Di sisi lain, populasinya harus terus dijaga agar lestari hingga generasi nanti.

Pertanyaannya, bagaimana menjaga populasi satwa yang sudah masuk status terancam kritis (dua langkah sebelum punah)?

Pengelolaan habitat

Sunandar menjelaskan bahwa melindungi populasi orang utan yang terbaik adalah dengan menjaga habitatnya. Habitat yang mendukung perkembangbiakan orang utan adalah yang memiliki kanopi hutan bagus, tajuk pohon lebat, dan yang paling penting adalah memiliki produktivitas pohon buah tinggi. Tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar hutan di Kalimantan dan Sumatra sudah terfragmentasi oleh kegiatan unit usaha manusia. Sunandar menggarisbawahi kerja sama dan komitmen dari berbagai pihak untuk konservasi itu bisa dilakukan. Hal ini terbukti dengan pengelolaan habitat orang utan di Bentang Alam Wehea-Kelay, yang kini melibatkan 23 mitra mewakili sektor pemerintah pusat, pemerintah daerah, swasta, perguruan tinggi, masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat.  

Keberadaan orang utan di wilayah perusahaan adalah sebuah aset ekosistem. “Kami sudah bergabung bersama Forum Kawasan Ekosistem Esensial Wehea-Kelay, belajar bersama-sama tentang bentang alam di wilayah ini, memahami dan menyadari potensi keanekaragaman hayati di wilayah ini. Kami survei bersama, kami petakan bersama, dan membuat protokol yang disepakati bersama,” ujar Penasihat Konsesi Kehutanan PT Gunung Gajah Abadi Group Prof. Soeyitno Soedirman.

Kajian Population and Habitat Viability Assessment Orang Utan  (PHVA) 2016 juga menunjukkan bahwa kondisi habitat orang utan Kalimantan Timur yang masih baik bisa ditemukan, salah satunya  di  bentang alam (Wehea-Kelay serta Sungai Lesan). Tingkat keanekaragaman hayati di kawasan bentang alam ini pun tinggi. Hal ini digambarkan berdasarkan hasil kajian yang dilakukan Yayasan Konservasi Alam Nusantara pada 2016-2018, yang dimuat dalam buku “Orang Utan Kalimantan dan Habitatnya  di Bentang Alam Wehea-Kelay.”

Berdasarkan kajian tersebut, setidaknya ada 1.200 individu orang utan yang tersebar pada tiga submetapopulasi, yaitu Kelay-Gie, Wehea dan Telen. Kajian ini turut mengidentifikasi lebih dari 500 jenis satwa liar dan lebih dari 400 jenis pohon, yang sekitar 30% di antaranya merupakan pakan orang utan kalimantan sub jenis Pongo pygmaeus morio.

Upaya konservasi orang utan di luar habitat alami menjadi salah satu pilihan untuk menyelamatkan satwa ini dari kepunahan. Adanya upaya kolaboratif yang melibatkan seluruh pihak menjadi kunci untuk melindunginya.