© YKAN

Kupang, 30 September 2019 - Untuk mendukung percepatan pengembangan rumput laut di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), afiliasi dari The Nature Conservancy (TNC), menyelenggarakan workshop Percepatan Pengembangan Rumput Laut Berkelanjutan di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Acara tersebut diselenggarakan di Kupang, pada 30 September 2019, dihadiri oleh para pemangku kepentingan yang terkait dengan pengembangan rumput laut di Provinsi NTT.

Budidaya rumput laut telah berkembang luas menjadi salah satu komoditas strategis yang memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan ekonomi masyarakat pesisir. Sentra produksi rumput laut di NTT antara lain di Kabupaten Kupang, Rote Ndao, Sabu Raijua, dan Sumba Timur yang sebagian wilayah perairannya merupakan kawasan konservasi.

Kualitas rumput laut sangat dipengaruhi oleh kesehatan ekosistem perairan. Salah satu tantangan pengembangan rumput laut di NTT adalah dari sisi ekologis. Banyak lahan untuk budidaya rumput laut tumpang tindih dengan habitat alami dari padang lamun dan terumbu karang. Keberadaan padang lamun sebagai salah satu habitat vital di pesisir, selain mangrove dan terumbu karang, penting demi kelangsungan sumber daya perikanan. Berkurangnya tutupan lamun dalam suatu perairan mempengaruhi kualitas perairan maupun biota-biota laut yang hidup di sekitarnya.  

“Sangat penting untuk mengembangkan rumput laut secara berkelanjutan. Dengan kata lain, proses produksi atau budidaya rumput laut harus memperhatikan aspek ekologi untuk menjamin keberlanjutan produksi,” jelas Direktur Program Kelautan YKAN I TNC Muhammad Ilman.

Berdasarkan data Statistik Sumber Daya Laut dan Pesisir Kementerian Kelautan dan Perikanan 2018, NTT menjadi produsen rumput laut terbesar nasional pada 2013 dan saat ini merupakan produsen terbesar kedua dengan total produksi sejumlah 1.941.707 ton pada 2017. Kebijakan Pemerintah Provinsi NTT terkait pengembangan rumput laut sebagai salah satu komoditas andalan dalam skala besar terbilang realistis karena selaras dengan posisi yang telah dicapai Provinsi NTT beserta dengan potensinya, yaitu masih luasnya lahan yang sesuai untuk menjadi area baru pengembangan rumput laut.

Selain aspek peningkatan produksi, aspek daya saing dan nilai tambah juga  harus menjadi hal yang dipikirkan oleh seluruh pemangku kepentingan dalam pengembangan rumput laut. Selama ini, produk rumput laut Indonesia masih didominasi oleh produk dalam bentuk mentah. Baru sekitar 3-5% dari produk rumput laut Indonesia yang berbentuk produk olahan. Produk rumput laut Indonesia dalam bentuk mentah pun secara umum dinilai belum berkualitas tinggi karena proses produksi yang meliputi pembibitan, pembesaran serta penanganan pasca panen belum memenuhi standar.

“Laut merupakan masa depan kita. Momen ini sangat berharga karena menandakan sebuah langkah maju dalam pembangunan bidang kelautan dan perikanan di Provinsi NTT. Target produksi rumput laut yang dicanangkan oleh Pemerintah Provinsi NTT pada 2019 adalah 2,4 juta ton, seperti tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2018-2023,” terang Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT, Ganef Wurgiyanto.

Ganef menambahkan, agar hasilnya optimal, kebijakan percepatan pengembangan budidaya rumput laut secara berkelanjutan oleh Pemerintah Provinsi NTT membutuhkan kesepahaman, komitmen, dan peran strategis para pemangku kepentingan baik pembudidaya, dunia usaha, lembaga swadaya masyarakat, maupun unsur terkait lainnya. Sinergi ini demi tak lain untuk meningkatkan produksi, mutu, dan daya saing produk rumput laut dalam mendukung pembangunan daerah dan  kesejahteraan masyarakat NTT.