© Ed Wray

 

Sebagai satu dari 10 negara dengan tingkat ketergantungan ikan terbesar di dunia, Indonesia berkomitmen memastikan keberlanjutan sumber daya laut di 11 Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) dengan luas 20 juta hektare pada 2020.

YKAN mendukung tujuan ini dengan solusi praktis berbasis ilmiah untuk pengelolaan perikanan, yang dikembangkan dalam kemitraan dengan lembaga pemerintah, komunitas nelayan, dan pakar terkemuka.


 

SNAPPER – Supporting Nature and People Partnership for Enduring Resources  (Mendukung Kemitraan Alam dan Masyarakat untuk Sumber Daya Berkelanjutan)

 

Indonesia adalah salah satu negara produsen kakap (Lutjanidae) dan kerapu (subfamili Epinephelidae) terbesar di dunia yang menyuplai pasar di seluruh dunia. Namun, populasi dan kelestariannya kini terancam. Ukuran rata-rata ikan kakap dan kerapu terus berkurang. Saat ini, 60 persen ikan yang diekspor adalah ikan juvenile (belum berpijah), artinya belum sempat bereproduksi. Permintaan pasar demikian tinggi untuk ikan fillet utuh yang memiliki ukuran pas dengan piring makan.

 

Untuk mendukung perikanan kakap dan kerapu yang berkelanjutan, YKAN mengembangkan program Supporting Nature and People-Partnership for Enduring Resources (SNAPPER) yang melakukan pendekatan berbasis sumber daya di 11 WPP, menerapkan pendekatan dan teknologi inovatif untuk memantau aktivitas penangkapan ikan dan hasil tangkapan secara efisien, serta mendukung pengembangan kebijakan yang mengatur akses ke sumber daya.

 

 

Tujuan SNAPPER

1. Peningkatan ketersediaan data, ilmu pengetahuan, dan teknologi untuk pengelolaan perikanan berkelanjutan.
2. Peningkatan kapasitas pemangku kepentingan untuk perencanaan dan pengelolaan perikanan berkelanjutan.
3. Peningkatan implementasi pengelolaan perikanan berkelanjutan pada perikanan target.

 


TUNA

 

Mendukung Kementerian Kelautan Indonesia mengadopsi proses pengambilan keputusan berbasis sains partisipatif untuk melaksanakan rencana pengelolaan tuna selama 5 tahun (2019-2024) dan menyusun strategi panen untuk Kepulauan Indonesia. Perairan (WPP 713, 714, dan 715) didukung oleh intervensi rantai pasokan untuk mencapai pengelolaan perikanan berkelanjutan.

YKAN adalah tuan rumah dari Konsorsium Perikanan Tuna Berkelanjutan di Indonesia (Konsorsium Tuna), program sinergi antarlembaga nonpemerintah. Konsorsium ini terdiri dari  YKAN, Yayasan IPNLF Indonesia, Fair Trade USA, PT Hatfield Indonesia, Sustainable Fisheries Partnership, Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia, Environmental Defense Fund, dan WWF


YKAN berupaya melakukan transformasi praktik perikanan di Indonesia dengan memantau stok ikan, memantau posisi kapal penangkap ikan, mengembangkan teknologi identifikasi jenis-jenis ikan, menggunakan metode pengelolaan right based fisheries untuk perikanan pesisir, dan masih banyak lagi.


 

Crew-Operated Data Recording System (CODRS)

Sekitar 90% perikanan di dunia mengalami kekurangan infomasi kajian stok. YKAN mengembangkan CODRS, sebuah metode dan teknologi pengumpulan data perikanan, sebagai sistem pendataan yang dioperasikan oleh para nelayan. CODRS menjadi jawaban untuk memenuhi informasi kajian stok tentang jenis ikan tangkapan, lokasi penangkapan, dan jumlah tangkapan per spesies ikan.

 

 

Fisheries Improvement Project (FIP—Program Peningkatan Perikanan)

FIP menjadi wadah komitmen bagi perusahaan perikanan kakap untuk menghindari pembelian ikan yang belum dewasa (juvenile), sekaligus mengembangkan rencana jangka panjang dan menciptakan sistem yang mumpuni untuk memantau hasil tangkapan. Hal ini diperlukan untuk memposisikan perikanan kakap di Indonesia memperoleh pengakuan keberlanjutan seperti Sertifikasi Marine Stewardship Council (MSC).

FIP juga telah tergabung di dalam fisheryprogress.org dan mempertahankan status A (Advanced Progress) untuk pengumpulan data CODRS dari 2015-2018.