© Nugroho Arif Prabowo

Hampir 60 juta orang di Indonesia tinggal di wilayah pesisir (10 km dari garis pantai) dan menggantungkan kehidupannya dari keberadaan ekosistem pesisir. Kenaikan suhu dan permukaan air laut, peningkatan intensitas cuaca buruk, dan perubahan pola musim adalah sebagian dampak buruk perubahan iklim. Hal ini menimbulkan permasalahan seperti berkurangnya tangkapan ikan nelayan, kerusakan budi daya perairan dan pertanian darat, serta kehilangan harta dan jiwa yang menyebabkan masyarakat pesisir semakin rentan.


YKAN mendorong pemanfaatan keanekaragaman hayati dan jasa ekosistem pesisir sebagai bagian dari strategi adaptasi keseluruhan untuk membantu orang beradaptasi terhadap dampak buruk perubahan iklim.



Mangrove merupakan ekosistem penting untuk mengurangi kerentanan permukiman pesisir, baik pada kejadian cuaca ekstrem maupun kenaikan muka air laut, dan berkontribusi terhadap mata pencaharian dan ketahanan pangan.

     

Mangrove untuk Mitigasi Perubahan Iklim

 


 

Pengelolaan ekosistem mangrove terpadu
Untuk melindungi dan merestorasi hutan mangrove di Indonesia, YKAN meluncurkan inisiatif berupa Aliansi Restorasi Ekosistem Mangrove atau Mangrove Ecosystem Restoration Alliance (MERA). MERA merupakan platform multipihak skala nasional untuk mencapai sasaran 5 tahun yang berfokus pada pembangunan pengetahuan untuk mengurangi kerentanan masyarakat pesisir, sumber daya dan aset, serta mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim.

Tujuan MERA
Pada tahun 2025, 500.000 hektare ekosistem mangrove dipulihkan dan dikelola secara berkelanjutan.