© Kadek Agus Cahyadi

Bali, 24 Februari 2021—Setahun berlalu sejak COVID-19 dinyatakan ada di Indonesia. Seluruh sendi kehidupan terpengaruh, menuntut setiap insan beradaptasi dengan situasi kenormalan baru. Industri perikanan Indonesia termasuk yang terkena dampak parah, kehidupan para nelayan berubah drastis. Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) bekerja sama dengan Photovoices International (PVI) mendukung sejumlah nelayan dan kaum perempuan yang bergerak di industri perikanan di Desa Les dan Desa Pemaron, Kabupaten Buleleng, Bali Utara, mendokumentasikan kehidupan mereka melalui kegiatan Photovoices yang berlangsung selama Oktober-Januari 2020. Dengan kamera di tangan, mereka mengabadikan keseharian di masa pandemi. 

Sejak Desember 2020, 11 peserta program Photovoices yang terdiri dari nelayan di Desa Les dan Desa Pemaron yang tergabung dalam program CODRS (Crew Operated data Recording System) atau sistem pencatatan data perikanan yang dilakukan oleh nelayan beserta para istri mereka dan perempuan yang bergerak di bidang perikanan, difasilitasi untuk mengabadikan momen keseharian mereka. Melalui proses pembelajaran yang difasilitasi oleh PVI dan YKAN, sekumpulan foto dan cerita dampak COVID-19 terhadap kehidupan nelayan dan para perempuan yang bergerak di bidang perikanan, diperoleh.

“Foto-foto ini diambil oleh para peserta program Photovoices untuk menggambarkan keseharian mereka dan masalah-masalah yang mereka hadapi, khususnya saat pandemi ini. Setiap minggu mereka bertemu untuk membahas secara kritis masalah-masalah tersebut, serta solusi untuk mengatasinya, baik yang dapat dilakukan sendiri atau dengan bantuan para pengambil kebijakan,” ujar Tri Soekirman, Direktur Eksekutif Photovoices International.  

Kadek Agus Cahyadi, salah satu peserta Photovoices, mengambil foto di Pantai Penimbangan, Dusun Dauh Margi, Desa Pemaron. Jajaran perahu terlihat memagari bibir pantai. Sebelum pandemi, seusai digunakan untuk mencari ikan, perahu-perahu ini biasa digunakan untuk mengantar pengunjung melihat lumba-lumba. “Dalam sehari, perahu-perahu nelayan kadang mendapatkan 2 kali trip mengantar tamu untuk melihat lumba-lumba. Pantai Penimbangan ramai, pendapatan masyarakat sangat lumayan. Warung-warung makan, penjual nasi jinggo, kedai kopi, kios-kios, dan pedagang kaki lima tak henti-hentinya melayani tamu yang membeli dagangan mereka. Kini, perahu-perahu nelayan hanya terpakir di pantai, bahkan beberapa di antaranya dinaikkan ke daratan, karena tak ada harapan tamu akan datang,” ujarnya.

“Sejak pandemi, industri perikanan skala kecil di Indonesia menghadapi tekanan besar. Harga jual ikan tuna ukuran besar merosot tajam. Sebelum pandemi berkisar Rp. 30.000-35.000 per kilogram, saat pandemi turun drastis menjadi Rp. 15.000-18.000 per kilogram. Namun, kini sudah membaik di harga Rp. 25.000 per kilogram. Sementara harga ikan tuna juvenil (belum berpijah) cenderung stabil di Rp. 18.000-23.000 per kilogram,” terang Peter Mous, Direktur Program Perikanan YKAN.

Banyak permintaan dari pembeli ikan dibatalkan, hingga tak sedikit pemilik kapal penangkap ikan berhenti beroperasi, bahkan menjual kapalnya untuk menyambung kehidupan. Hal ini memaksa para nelayan maupun kaum perempuan di sektor perikanan untuk beradaptasi dengan melakukan pekerjaan di luar mata pencaharian sehari-harinya. Beberapa istri nelayan, contohnya, mencari sumber penghasilan tambahan dengan berkreasi menjual makanan olahan dari ikan, seperti sate dan lainnya secara daring.

Surutnya pendapatan dari melaut dan mengantar wisatawan membuat kaum perempuan harus mencari cara untuk dapat terus menghidupi keluarganya. Seperti yang tergambar pada hasil foto Ketut Milantini, dari Desa Les. Ia memotret seorang perempuan buruh ikan bernama Luh Parse (35 tahun), yang juga salah seorang anggota kelompok perempuan buruh jujung ikan Sekar Sari yang beranggotakan 15 orang. Buruh jujung ikan biasanya bertugas menunggu perahu yang membawa bongkaran ikan ke pantai Dusun Penyumbahan, Desa Les. Ikan-ikan bongkaran nelayan dibawa oleh ibu-ibu ke pengepul untuk ditimbang. Setelah menyelesaikan tugasnya, ibu-ibu buruh akan berkumpul di kios pengepul untuk menerima upah sebesar Rp. 50.000 per orang, juga beberapa ekor ikan untuk dibawa pulang dan dimasak di rumah. Upah dari menjunjung ikan dapat membantu ekonomi keluarga ibu-ibu kelompok Sekar Sari walau hanya sedikit.

Para peserta dari Desa Les telah mempresentasikan foto dan cerita mereka kepada Kepala Desa Les. Dalam kesempatan tersebut, mereka juga mengutarakan harapan untuk mendapatkan bantuan fasilitas rumpon dan mesin tempel, bantuan peningkatan ekonomi keluarga nelayan dengan berternak, sertapenambahan jumlah keluarga nelayan yang mendapatkan bantuan sosial dampak Covid-19—agar menjadi lebih dari 7 kepala keluarga. Kepala Desa Les menanggapinya secara positif, walaupun harapan para peserta baru dapat terealisasi di Tahun Anggaran 2022. Dialog terbuka dengan kepala desa diharapkan akan tetap terjaga.

Saling mendukung sesama masyarakat pesisir dapat menjadi strategi dalam membantu adaptasi nelayan di masa sulit ini. Masa pandemi juga menjadi momentum untuk kembali mengingatkan pentingnya kehadiran negara dalam memastikan kebertahanan masyarakatnya, baik melalui kepastian pengetahuan dan informasi terkait pandemi COVID-19, paket-paket kebijakan di multisektor, baik sektor kesehatan atau non-kesehatan, dan dukungan sosial serta kelembagaan, khususnya untuk kelompok rentan seperti nelayan.

(photo by: Kadek Agus Cahyadi/nelayan desa Pemaron, Buleleng, Bali) 

Perahu yang bersandar di pagi hari biasanya dapat dihitung dengan jari karena para nelayan masih melaut dan sebagian lagi sibuk menjadi pemandu wisata bagi wisatawan yang ingin menyaksikan atraksi lumba-lumba di sepanjang kawasan Lovina, Desa Pemaron. Sejak pandemi COVID 19, pantai Penimbangan menjadi pantai jejeran perahu-perahu nelayan yang terparkir, bahkan tak jarang perahu dinaikkan ke daratan karena tak ada harapan kehadiran turis.

 

(photo by: Ketut Milantini/ibu rumah tangga Desa Les, Buleleng, Bali)

Selain menjadi ibu rumah tangga, Luh Parse (35 tahun) juga bekerja di pengepul ikan. Beliau tergabung dalam kelompok perempuan buruh jujung ikan “Sekar Sari” dengan jumlah 15 orang anggota. Ibu Luh Parse beserta anggota lainnya bertugas menunggu perahu yang membawa bongkaran ikan ke pantai Dusun Penyumbahan. Ikan-ikan bongkaran nelayan lantas dibawa oleh ibu-ibu kelompok buruh jujung ikan ke pengepul untuk ditimbang. Usai bertugas, mereka mendapatkan upah sebesar Rp. 50.000 per orang, juga beberapa ekor ikan untuk dibawa pulang dan digoreng di rumah. Meski jumlahnya sedikit, Luh Parse mengaku jika upah dari menjunjung ikan dapat membantu ekonomi keluarga.

 

Diakses dari: https://www.photovoicesinternational.org/in-the-news-2/ykan-pvi-joint-press-release-english/ pada 27 April 2021