©

Samarinda, Kalimantan TimurPemerintah Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, bertekad  mengembangkan ekonomi hijau melalui perkebunan berkelanjutan.  Biro Pusat Statistik mencatat, hingga 2019, luas perkebunan sawit di Berau mencapai 135 juta hektare. “Kendati demikian, pesatnya ekspansi area perkebunan kelapa sawit akan memberi dampak serius terhadap lingkungan, keanekaragaman hayati, serta produktivitas komoditas perkebunan lainnya,” ujar Pejabat Sementara (Pjs.) Bupati Berau Muhammad Ramadhan yang diwakili oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Berau Muhammad Gazali saat memberi sambutan webinar BINGKA KALTIM dengan tema “Menggagas Peta Jalan Pembangunan Hijau Berau Melalui Investasi Komoditas Lestari”, pada Rabu, 7 Oktober 2020.

 

Menurutnya, situasi tersebut dapat terjadi apabila praktik-praktik pembangunan perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan tidak diterapkan. Itu sebabnya, Pjs. Bupati Ramadhan mengapresiasi webinar BINGKA KALTIM atau Bincang Komoditas Lestari Kalimantan Timur yang terselenggara atas kerja sama Forum Komunikasi Perkebunan Berkelanjutan Berau, Badan Perencanaan Penelitian dan Pembangunan (Bapelitbang)  Berau, Dinas Perkebunan Kabupaten Berau, dan YKAN. “Upaya dan kerja-kerja pembangunan berkelanjutan ini amat memerlukan dukungan dari semua pihak,” ujarnya. Artinya, pemerintah daerah, mitra pembangunan, pelaku bisnis perkebunan, hingga petani/pekebun, perlu saling berkoordinasi, melakukan sinkronisasi dan komunikasi lintas sektor secara intensif untuk membahas investasi komoditas lestari.

 

Sektor pertanian berkontribusi sebesar 11 persen terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Berau, yang hampir 45 persennya berasal dari subsektor perkebunan kelapa sawit. Padahal, kabupaten yang tersohor dengan nama Bumi Batiwakkal ini kaya akan komoditas unggulan lainnya, seperti kakao, karet, lada, jagung, dan kelapa dalam. Namun,  kontribusi komoditas selain sawit, belum signifikan.

 

Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) melakukan sejumlah kajian tentang strategi dan bisnis investasi pembangunan berkelanjutan; peningkatan diversifikasi komoditas perkebunan selain sawit; dan peningkatan produktivitas rantai pasok beragam komoditas unggulan selain sawit. Kajian tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu referensi dalam menyusun kebijakan dan strategi yang dapat dipraktikkan ke tingkat tapak untuk pengembangan komoditas unggulan lestari. Kajian ini pula yang dibahas mendalam dalam webinar BINGKA KALTIM tersebut.

 

Rekomendasi dan catatan dari kajian tersebut antara lain adalah petani swadaya di Berau berpotensi melakukan diversifikasi kepala sawit dengan beralih ke kakao dan jagung. Analisa dari Climate Policy Initiative (CPI) menyatakan  penggunaan instrumen-instrumen keuangan seperti Kredit Usaha Rakyat, Asuransi Usaha Tani Jagung, Garansi Kredit, dan Perhutangan Konsesi juga dapat mengurangi risiko finansial yang dihadapi petani kecil dalam rangka membiayai diversifikasi. Namun, untuk menjaga agar diversifikasi tidak mengakibatkan deforestasi, diversifikasi perlu dilaksanakan di Areal Penggunaan Lain (APL) kosong yang ada.

 

Konsultan Individu Caecilia Afra Widyastuti yang meneliti tentang rantai nilai  kakao, karet dan lada merekomendasikan adanya peningkatan kapasitas petani.  Para petani di Berau berpotensi untuk meraih pendapatan lebih tinggi dengan meningkatkan produktivitas kebun, meningkatkan kualitas komoditas melalui penanganan pasca panen  yang dapat meningkatkan nilai tambah, mengurangi biaya produksi dan mengaplikasikan sistem perkebunan tumpang sari. Sementara Yayasan Lapitaya merekomendasi skenario agriculture hijau, yaitu dengan meningkatkan produktivitas ketiga tanaman,  memperbaiki harga jual dengan menyasar pasar premium, dan mengembangkan produk turunan

 

Analisa dari tiga kajian tersebut direspons para panelis yang berasal dari pemangku kepentingan langsung yaitu Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur, Dinas Perkebunan Berau, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kampung (DPMK) Berau, Bapelitbang Berau serta Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Muhammadiyah Berau. “Saya berharap, diskusi ini menghasilkan gagasan, masukan, maupun rekomendasi untuk mewujudkan pembangunan perkebunan hijau Kabupaten Berau,” ungkap Pjs Bupati Ramadhan dalam catatan sambutannya

 

Respons positif datang dari Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur Ujang Rachmad yang menyampaikan bahwa studi yang  disampaikan sudah sejalan dengan arah kebijakan dan  strategi Dinas Perkebunan Provinsi. Poin-poin studi juga ditemukan dalam dokumen kebijakan dinas perkebunan provinsi, antara lain perihal diversifikasi dan peningkatan harga jual komoditas di tingkat petani. Ujang menambahkan bahwa semua penelitian ini perlu direplikasi, serta scalling-up atau diperluas ruang lingkupnya ke skala provinsi.

 

Kepala Bapelitbang Berau Agus Wahyudi menjelaskan bahwa Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Teknokratik Berau sudah merumuskan dengan rinci mengenai upaya perkebunan berkelanjutan sebagai salah satu upaya transformasi ekonomi hijau. “Jelas sekali, bahwa ke depan ekonomi di Berau akan bertransformasi dari pertambangan ke yang berkelanjutan,” ujar Agus. Pernyataan Agus Wahyudi tersebut diperkuat dengan tanggapan dari Kepala Dinas Perkebunan Berau Amran Arief. Menurut Amran, pemerintah kabupaten sedang memproses master plan perkebunan berkelanjutan berbasis korporasi petani. Ide tersebut sejalan dengan amanat Pemerintah Pusat bahwa setidaknya setiap provinsi memiliki dua korporasi petani yang bisa bermanfaat sebagai sarana teknologi, inovasi, dan promosi. Badan Usaha Milik Kampung akan menjadi model rintisan korporasi petani di Berau. “Kami sudah dukung penggunaan Anggaran Dana Kampung untuk pengembangan BUMKam Komoditas,” ujar Kepala DPMK Berau Ilyas Natsir.