Mengenal Solusi Iklim Alami untuk Mitigasi Perubahan Iklim Indonesia

Ellyvon Pranita | 25 December 2020

Penulis Ellyvon Pranita | Editor Holy Kartika Nurwigati Sumartiningtyas

KOMPAS.com - Tanpa disadari permasalahan perubahan iklim tidak hanya berdampak secara global, tetapi juga berpengaruh terhadap kondisi alam di Indonesia.

Untuk mengantisipasi dampak buruk kerusakan alam di Bumi ini akibat perubahan ikli, maka sejumlah negara di dunia telah menyepakati atau ikut dalam Persetujuan Paris (Paris Agreement).

Persetujuan Paris yang diadopsi pada COP-21 tahun 2015 merupakan persetujuan internasional berdimensi sangat luas yang entry into force kurang dari satu tahun setelah diadopsinya persetujuan tersebut.

Ini jauh lebih cepat dari yang diperkirakan oleh banyak negara pihak (parties) yang mengadopsi persetujuan yang dimaksud.

Nationally Determined Contribution (NDC) merupakan komitmen setiap negara pihak terhadap Persetujuan Paris itu. Indonesia sendiri telah menyampaikan NDC sejak tahun 2016, yang menguraikan transisi Indonesia menuju masa depan yang rendah emisi dan berketahanan iklim. Untuk mencapai target NDC Indonesia ini, banyak pihak menyatakan bahwa solusi iklim alami atau Natural Climate Solutions (NCS) bisa dijadikan salah satu inovasi yang strategis untuk mengantisipasi permasalahan yang lebih buruk akibat perubahan iklim dunia.

Nationally Determined Contribution (NDC) merupakan komitmen setiap negara pihak terhadap Persetujuan Paris itu.

Indonesia sendiri telah menyampaikan NDC sejak tahun 2016, yang menguraikan transisi Indonesia menuju masa depan yang rendah emisi dan berketahanan iklim.

Untuk mencapai target NDC Indonesia ini, banyak pihak menyatakan bahwa solusi iklim alami atau Natural Climate Solutions (NCS) bisa dijadikan salah satu inovasi yang strategis untuk mengantisipasi permasalahan yang lebih buruk akibat perubahan iklim dunia.

Apa itu solusi iklim alami atau Natural Climate Solutions (NCS)?

 Nationally Determined Contribution (NDC) merupakan komitmen setiap negara pihak terhadap Persetujuan Paris itu.

Indonesia sendiri telah menyampaikan NDC sejak tahun 2016, yang menguraikan transisi Indonesia menuju masa depan yang rendah emisi dan berketahanan iklim.

Untuk mencapai target NDC Indonesia ini, banyak pihak menyatakan bahwa solusi iklim alami atau Natural Climate Solutions (NCS) bisa dijadikan salah satu inovasi yang strategis untuk mengantisipasi permasalahan yang lebih buruk akibat perubahan iklim dunia.

Apa itu solusi iklim alami atau Natural Climate Solutions (NCS)?

Solusi iklim alami adalah serangkaian upaya mitigasi berbasis alam yang mencakup perlindungan hutan dan lahan basah, perbaikan pengelolaan hutan, serta restorasi ekosistem hutan, gambut, dan mangrove.

Indonesia bersama tiga negara tropis lainnya (Brasil, Kongo dan India) dapat menyumbang lebih dari setengah dari potensi penurunan emisi.

Sementara Indonesia sendiri memiliki potensi terbesar, dengan kemampuannya menekan emisi karbon sekitar 1,4 Gton CO2e/tahun.

Hutan mangrove di Desa Torosiaje yang dikelola masyarakat tumbuh lestari. Kawasan ini diusulkan Pemerinrah Provinsi Sebagai Kawasan Ekosistem Esensial(KOMPAS.COM/ROSYID AZHAR)
Hutan mangrove di Desa Torosiaje yang dikelola masyarakat tumbuh lestari. Kawasan ini diusulkan Pemerinrah Provinsi Sebagai Kawasan Ekosistem Esensial(KOMPAS.COM/ROSYID AZHAR)

Solusi iklim alami (NCS) dianggap sebagai salah satu strategi inovatif yang seharusnya bisa dikembangkan oleh pemerintah Indonesia untuk menekan emisi karbon dan sebagai upaya mitigasi perubahan iklim agar dapat terwujud.

NCS ini disebutkan memiliki potensi untuk memberikan kontribusi hingga 90 persen dari target NDC Indonesia.

Sehingga, Indonesia dengan potensi solusi iklim alami yang sangat tinggi, bisa optimis dapat mencapai target penurunan emisi nasional pada tahun 2030 mendatang.

Bagaimana kondisi dan potensi Indonesia saat ini?

Ketua Dewan Pertimbangan Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Ir Sarwono menyampaikan Indonesia dikenal memiliki kemampuan laten untuk memberi solusi bagi kehidupan iklim karena kekayaan sumber daya alamnya.

Indonesia juga menjadi rumah bagi hutan mangrove terluas di dunia, hutan hujan tropis terbesar ketiga di dunia dan masih banyak aset alam lainnya.

Sarwono menuturkan, aset-aset alam tersebut meski saat ini juga banyak yang mengalami degradasi, tetapi masih dapat diandalkan.

"Riset lain mengatakan, jika suatu bentang alam masih utuh, baik di wilayah daratan atau kelautan, (maka) mampu menahan kerusakan yang disebabkan oleh perubahan iklim," kata Sarwono dalam diskusi interaktif oleh Yayasan Koserbasi Alam Nusantara (YKAN), Selasa (27/10/2020).

Target NDC Indonesia dengan kekayaan hutan

Dalam diskusi bertajuk Solusi Iklim dari Alam untuk Alam tersebut, tidak hanya Sarwono, Direktur Inventarisasi dan Pemantauan Sumber Daya Hutan di Ditjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan dari KLHK, Dr Belinda Margono juga menyampaikan hal yang sama.

Mengembangkan potensi alam yang tinggi dan dimiliki oleh Indonesia ini menjadi bagian dari komitmen untuk mencapai target NDC Indonesia.
 

Ilustrasi hutan mangrove.
Ilustrasi hutan mangrove.(DOK. SHUTTERSTOCK)

Disampaikannya, implementasi solusi berbasis alam pun perlu memperhatikan modalitas dan mempertimbangkan kondisi Indonesia saat ini.

Belinda memaparkan, dari lima sektor untuk meraih target NDC Indonesia, sektor kehutanan memainkan peranan penting karena menanggung sekitar 17,2 persen dari total target 29 persen.

Dengan kata lain, sekitar 69 persen dari pencapaian target NDC Indonesia adalah sektor kehutanan yang luasnya mencapai 94,1 juta hektare.

"Bekerja dengan alam adalah strategi yang paling pas dengan modalitas yang dimiliki Indonesia," ujarnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Timur Ence Ahmad Rafiddin Rizal ST MSi mengatakan, komitmen pemerintah dalam menekan emisi karbon dan mitigasi perubahan iklim tentu memerlukan dukungan dan jalinan kemitraan dari seluruh pihak kepentingan, baik di tingkat nasional, provinsi, maupun kabupaten.

Dalam hal ini, Kalimantan Timur menjadi satu-satunya provinsi yang ditunjuk pemerintah pusat untuk terlibat dalam Forest Carbon Partnership Facility di mana Kaltim mendapatkan insentif apabila berhasil melakukan upaya mengurangi emisi karbon.

“Sejak tahun 2015, kami juga bekerja sama dengan YKAN membentuk Kawasan Ekosistem Esensial Wehea Kelay seluas 532 ribu ha, yang kini melibatkan 23 mitra, baik dari mitra pemerintah, korporasi, maupun masyarakat. Tujuannya untuk menjaga habitat orang utan baik di kawasan hutan lindung, maupun di area konsesi hutan produksi dan kebun sawit,” jelas Rizal.

Sumber : https://www.kompas.com/sains/read/2020/10/29/120200723/mengenal-solusi-iklim-alami-untuk-mitigasi-perubahan-iklim-indonesia?page=all