Menjaga Harmoni dengan Sasi

© Christianus W. Djoka

Mentari perlahan menghilang, tanda malam akan datang. Yefta Mjam (54) sibuk di halaman belakang rumahnya yang berbatasan langsung dengan laut. Lampu petromaks, kalawai atau tombak untuk mencari teripang, juga makanan dan minuman, ia masukkan ke dalam perahu. Ini semua bekal untuk menemaninya melaut malam ini. “Hari ini adalah hari pertama buka sasi. Saya akan mencoba peruntungan untuk mencari teripang. Semoga Tuhan memberkati sehingga cuaca bagus dan hasil yang saya dapat banyak. Untuk menambah tabungan keluarga,” ujar Yefta dengan sumringah.

Pemandangan ini jamak ditemui di rumah-rumah masyarakat di Kampung Folley, Distrik Misool Timur, Kabupaten Raja Ampat. “Ini hari yang kami tunggu-tunggu. Selama setahun, wilayah sasi di kampung ini kami tutup dan jaga. Harapannya agar saat dibuka hasilnya melimpah,” kata Nikson Moom (40) sambil menyeruput kopinya.

Sasi adalah praktik pengelolaan sumber daya alam yang dilakukan oleh masyarakat adat dengan menutup pemanfaatan sumber daya di laut dan darat dalam jangka waktu tertentu. Praktik adat ini masih banyak dilakukan oleh masyarakat di Maluku dan Papua. Pembukaan dan penutupan wilayah sasi biasanya diawali dengan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan para leluhur.

Masyarakat Kampung Folley mengelola wilayah sasi seluas 297 hektare. Mereka rutin melakukan pemantauan dan tidak mengambil teripang yang berukuran di bawah 15 cm saat buka sasi. Selain tidak laku di pasaran karena terlalu kecil, pengambilan teripang lebih kecil dari 15 cm juga akan berdampak pada berkurangnya bibit teripang. Teripang ukuran ini belum sempat bertelur dan menghasilkan bibit teripang yang dibutuhkan untuk mempertahankan jumlah teripang di wilayah tersebut.

“Nenek moyang telah mengajarkan kepada kami tentang pemanfaatan sumber daya alam yang bijak melalui sasi, sehingga kami akan terus melestarikan budaya sasi ini,” tekad Leonard Moom, tokoh adat di Kampung Folley.

Wilayah sasi di Kampung Folley berada di wilayah milik marga Fadimpo dan Moom. Namun, masyarakat di luar marga maupun dari luar Kampung Folley diperbolehkan mengikuti panen sasi. Tentu, mereka wajib mematuhi aturan panen sasi. Selain hanya boleh mengambil teripang minimal berukuran 15 cm, penangkapan teripang harus menggunakan alat yang ramah lingkungan dan dilarang menggunakan kompresor atau potassium.

Dari data yang dikumpulkan Yayasan Konservasi Alam Nusantara, sejak wilayah sasi di Kampung Folley dikelola dengan lebih baik, terjadi peningkatan jumlah biota mupun manfaat ekonomi. Dari hanya terdapat 6 spesies teripang pada 2013-2014, pada 2017 ditemukan 11 jenis teripang. Salah satunya merupakan spesies teripang dengan nilai ekonomi tinggi, yakni teripang gosok (Holoturian scabra), yang di pasaran lokal harganya berkisar antara Rp 600.000 – Rp. 1.000.000/kg. Sementara data panen sasi pada 2013-2019 menunjukkan, rata-rata hasil penjualan teripang per kepala keluarga adalah Rp 2-4 juta.