30 March 2020

Misool Timur Terapkan Sistem Sasi Adat untuk Kelola Teripang

Menutup pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA) dan wilayah dalam jangka waktu tertentu masih banyak dilakukan di Indonesia bagian Timur. Terutama dalam upaya sasi, atau praktik pengelolaan SDA oleh masyarakat adat. Wilayah Indonesia bagian Timur yang masih banyak mempraktikkan sistem sasi ialah Maluku dan Papua. Sementara itu masyarakat Kampung Folley dan Tomolol di Distrik Misool Timur menerapkan sistem sasi untuk pengelolaan teripang. Untuk diketahui, Kampung Folley dan Kampung Tomolol adalah bagian dari wilayah perairan masyarakat hukum adat di Misool Timur. Selain dua kampung itu, adalagi Kampung Limalas Barat, Kampung Limalas Timur, dan Kampung Audam.

Penerapan sistem sasi merupakan praktek pengelolaan dan pemanfaatan SDA berkelanjutan yang telah dilakukan secara turun-temurun. Dijelaskan oleh tokoh adat dari Kampung Tomolol, Octolius Moom, praktik sasi ini disebutkan efektif karena tingkat kepatuhan masyarakat lebih tinggi dibandingkan kepatuhan terhadap hukum positif atau aturan formal. Sementara itu, sistem sasi adat yang dimaksud adalah larangan untuk mengambil hasil alam, baik hasil pertanian maupun hasil kelautan sebelum waktu yang ditentukan. "Salah satu tradisi luhur tentang menjaga alam yang masih kami lakukan hingga saat ini adalah tradisi sasi,” ujar dia.

Bagaimana praktik sasi di wilayah perairan ini? Data yang dikumpulkan oleh Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) selama 2013-2019 menunjukkan adanya peningkatan, baik jumlah biota maupun manfaat ekonomi, sejak wilayah sasi dikelola dengan baik. Dijelaskan oleh Direktur Program Kelautan Yayasan Konservasi Alam Nusantara, Muhammad Ilman, bahwa wilayah sasi biasanya dibuka satu tahun sekali dengan masa buka 7-14 hari.

 

204033820150121-KM-Vietnam-diamankan-Polair-Polres-Raja-Ampat780x390

"Saat buka sasi, per kepala keluarga rata-rata mendapat tambahan penghasilan sebesar Rp 2.000.000 hingga Rp 4.000.000 dari hasil penjualan teripang," kata dia. Sebagian penghasilan sasi bahkan bisa disisihkan untuk kepentingan sosial, yaitu dana darurat bagi anak-anak yang sedang menuntut ilmu di kota dan dana untuk kegiatan keagamaan di desa. Pada masa awal penetapan sasi di tahun 2013 di Kampung Folley, hanya enam spesies teripang yang ditemukan saat melakukan panen sasi. Namun, setelah dilakukan pengelolaan sasi oleh masyarakat, pada tahun 2017 ditemukan 11 jenis teripang, yang disebut sebagai jumlah terbanyak sejak buka sasi tahun 2013.

Perdagangan Teripang
Di Indonesia, setidaknya ditemukan sebanyak 29 jenis teripang yang diperdagangkan. 11 Jenis di antaranya bisa ditemukan di wilayah sasi masyarakat dampingan YKAN. Ironisnya, oleh karena pemanfaatn yang berlebih dan permintaan pasar yang tinggi, populasi teripang di banyak tempat di Indonesia terus menurun. Bahkan, beberapa jenis teripang saat ini sudah sangat jarang ditemukan. Salah satu contoh teripang yang mempunyai nilai ekonomis tinggi adalah teripang gosok atau Holoturian scabra. Harga jual teripang jenis satu ini berkisar Rp 600.000 hingga Rp 1.000.000 per kilogram di pasaran lokal. Baca juga: 3 Manfaat Haisom, Olahan Teripang Kaya Gizi yang Disajikan saat Imlek Ilman menuturkan bahwa seacara ekologis, teripang memiliki peranan sangat penting dalam menjaga kesehatan ekosistem. Peran tersebut antara lain menetralkan pencemaran perairan (bioremediatory), membantu mengendalikan keasaman laut, dan membantu menyuburkan perairan. "Oleh sebab itu, wilayah sasi yang dikelola dengan baik memberikan kontribusi ganda, yaitu perbaikan kondisi ekologi, kondisi sosial, dan peningkatan kondisi ekonomi masyarakat,” ujar dia.

sumber :  https://www.kompas.com/sains/read/2020/03/30/090500523/misool-timur-terapkan-sistem-sasi-adat-untuk-kelola-teripang?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

YKAN

Penulis

YKAN

Informasi Terkait

Konservasi Gunung Muria

17 April 2020

Konservasi Gunung Muria

Macan Tutul di Gunung Muria

17 December 2019

Macan Tutul di Gunung Muria

Panen padi orang Mapnan di Long Duhung