SECURE percontohan di Tabalar
TAMBAK SECURE Tambak yang menggunakan pendekatan Shrimp-Carbon Aquaculture (SECURE) di Kampung Pegat Batumbuk, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. © Vabian Adriano/YKAN

Perspektif

Hutan Mangrove, Penyimpan Karbon Terbaik

Bagaimana mengkuantifikasi emisi yang dihasilkan dari konversi hutan mangrove menjadi akuakultur? Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) meneliti emisi gas rumah kaca dan cadangan karbon di Kalimantan Timur, tepatnya di Kampung Tabalar Muara, Kabupaten Berau. Tim peneliti dari strategi program Solusi Iklim Alami mengukur emisi Gas Rumah Kaca (GRK)  pada hutan mangrove primer, hutan mangrove sekunder, dan tambak udang. Tim peneliti juga mengukur simpanan karbon pada atas dan bawah permukaan tanah pada ketiga penggunaan lahan tersebut.

Baca juga: Imbas positif dari 741 hektare Mangrove di Teluk Semanting

 “Hasil penelitian menunjukkan Hutan Mangrove berperan penting bagi sebagai penyimpan karbon dan jika terjadi alih fungsi lahan, emisi yang dilepaskan bukan hanya dari karbon permukaan namun juga dari tanah,” ujar Manajer Senior Karbon Kehutanan dan Perubahan Iklim YKAN Nisa Novita pada acara Diseminasi Hasil Pengukuran GRK pada Lahan Basah di Kalimantan Timur yang diselenggarakan di Samarinda, Selasa 5 Maret 2024.

Mangrova dan Tambak yang bersandingan dan dikelola dalam skema SECURE di Kampung Tabalar Muara, Kabupaten Berau.
Keterangan Foto Mangrove dan Tambak yang bersandingan dan dikelola dalam skema SECURE di Kampung Tabalar Muara, Kabupaten Berau. © YKAN

YKAN berkolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional dan Yayasan Perisai dalam melaksanakan penelitian tersebut. Para peneliti menemukan bahwa mangrove di Desa Tabalar Muara memiliki simpanan karbon yang relatif tinggi sebesar 942 ± 20 Mg C /hectare. Nilai ini  sebanding dengan nilai median simpanan karbon hutan mangrove di Indonesia yaitu di angka 950,5 Mg C/hektare. Hutan mangrove di Tabalar Muara memiliki simpanan karbon yang terbesar dari tanah, yaitu sekitar 84 persen. Sisanya berada di atas permukaan. Para peneliti menemukan bahwa dengan menjaga hutan mangrove yang tersisa dari alih fungsi lahan menjadi tambak, dapat mengurangi emisi GRK hingga 67,43 ± 18,49 Mg CO2 per hektare per tahunnya.

Manajer Senior Karbon Kehutanan dan Perubahan Iklim YKAN Nisa Novita memaparkan hasil penelitian pada acara Diseminasi Hasil Pengukuran Gas Rumah Kaca (GRK) pada Lahan Basah di Kalimantan Timur.
Keterangan Foto Manajer Senior Karbon Kehutanan dan Perubahan Iklim YKAN Nisa Novita memaparkan hasil penelitian pada acara Diseminasi Hasil Pengukuran Gas Rumah Kaca (GRK) pada Lahan Basah di Kalimantan Timur. © YKAN

“Melindungi hutan mangrove yang masih tersisa menjadi hal penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim,”kata Nisa. Mangrove selama ini dikenal sebagai sabuk hijau pesisir dari ancaman kenaikan muka air laut maupun tsunami. Mangrove juga tempat hidup biota laut yang baik. Menjaga mangrove yang ada terbukti mampu berkontribusi dalam penurunan emisi.